Kamis, 22 Maret 2012

cerpen # 2

Sahabat Kecilku

Siang itu cuaca sedang tak bersahabat. Hujan deras turun sejak pukul  10 pagi. Tak ada aktivitas yang dilakukan di luar rumah, termasuk Khanza dan Kevin, sepasang  sahabat yang selalu rukun dan kompak, yang siang itu juga memilih beristirahat di dalam rumah.
            Khanza yang merasa sedikit kedinginan, siang itu ia memutuskan untuk minum secangkir teh hangat ditemani biscuit coklat buatan mamanya. Namun istirahatnya itu segera terganggu oleh kedatangan Kevin.
            “Hai Khanza, apa kabarnya hari ini?”, sapa Kevin.
            “ Duh Kev, kamu ngagetin aku saja deh”, tukas Khanza. “Ngapain sih, hujan-hujan begini pake acara main ke rumahku segala, memangnya kamu nggak dimarahin mama kamu?” Tanya Khanza.
            “Kamu kayak nggak tau aku saja Za, aku kan orangnya emang ngak bias ditentang”, jawab Kevin.
            Akhirnya kedua sahabat tadi saling bercengkerama dan bercanda. Sampai-sampai mereka tak menyadari bahwa hujan telah reda dan suasana di luar sudah mulai kembali seperti biasa.
        *           *           *

            Siang itu, setelah pulang sekolah Kevin mengajak Khanza bermain di taman dekat rumah Khanza. Namun, belum lama mereka bermain, Khanza tampak dicari oleh mamanya dan disuruh untuk segera pulang ke rumah.
            “Lho ma, memangnya ada apa  sih, kok mama nyuruh aku pulang sekarang? Tadi kan aku udah makan siang ma”, jawab Khanza.
            “Iya mama tau sayang, tapi ada hal penting yang harus mama dan papa bicarakan dengan kamu. Jadi sekarang kamu pulang dulu ya nak!” bujuk mama dengan pelan.
            “Ya udah deh kalau gitu, aku pulang duluan ya Kev”.
            Dengan tak bersemangat Kevin pun menjawab.
            “Oke, tapi nanti sore kita main lagi ya?”
            Dengan semangat Khanza menjawab, “okedeh Kevin”.
            Akhirnya Khanza dan mamanya segera pulang dan meninggalkan Kevin sendirian di taman.

       *           *          * 
            “Assalamu’alaikum”, ucap Khanza setelah membuka pintu.
            “Wa’alaikum salam”, jawab papa. “Ayo, duduk sayang! Papa mau memberitahu kamu sesuatu”.
            “Apaan sih pa, bikin Khanza penasaran saja deh”.
            Setelah menghela napas panjang, akhirnya papa memulai pembicaraan.
            “Begini sayang, minggu depan rencananya papa, mama dan kamu akan pindah ke Amerika. Kita akan tinggal disana selama kurang lebih 5 tahun. Jadi papa minta kamu bersedia ikut papa dan mama pindah serta kamu harus pindah sekolah ke Amerika untuk sementara waktu”. 
            “Apa pa? Tapi kenapa papa ngasih tahunya ke Khanza mendadak. Apa sanggup Khanza meninggalkan semua yang ada disini selama 5 tahun nanti”, isak Khanza.
            “Kamu pasti bias sayang, papa yakin itu. Papa tahu ini semua pasti berat buat kamu. Tapi ini semua demi kebaikan kamu nak”.
            “Tapi kenapa sih pa, kita harus pindah ke Amerika?”
            “Papa harus mengurusi bisnis papa yang disana sayang.”
            “Disana kan sudah ada om Roni dan tante Maya, jadi kenapa mesti khawatir?” Tanya Khanza lagi.
            “Ya, memang disana sudah ada om dan tante kamu. Tapi tanpa kehadiran papa disana perusahaan tidak akan berjalan sempurna”, jawab papa.
            “Huh………., terserah papa deh”.
            Akhirnya dengan mata berkaca - kaca, Khanza lari meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamarnya. Di kamarnya ia menangis dan terus memandangi fotonya bersama Kevin. Bagaimanapun Khanza tidak akan sanggup menceritakan rencana kepergiannya kepada Kevin. Ia tidak rela jika harus berpisah  dari Kevin selama 5 tahun. Akhirnya dengan terus meneteskan air mata, Khanza menulis surat untuk Kevin.

               *          *           *
            menceritakan rencana kepergiannya kepada Kevin. Waktu menunjukkan pukul 10 pagi, 2 jam sebelum keberangkatan Khanza. Dengan langkah gontai, Khanza memberanikan diri untuk pergi ke rumah Kevin.
            “Assalamualaikum……….., Assalamualaikum………..”
            “Waalaikum salam, eh mbak Khanza. Ada apa mbak, mau Akhirnya, hari kepergian Khanza pun telah tiba. Namun hingga hari menjelang kepergiannya, ia masih tetap belum mencari mas Kevin ya?” Tanya bibi.
            “Iya bi, Kevinnya ada?”
            “Aduh mbak, baru saja mas Kevinnya pergi.”
            “Pergi kemana bi?”
            “Pergi ke Puncak sama bapak dan ibu. Katanya sih, mau liburan 2 hari di vila mereka.”
            “Deggggg”, Khanza serasa tersambar petir. Kesempatannya untuk mengatakan rencana kepergiannya kini telah musnah. Lalu Khanza mengambil surat yang ada didalam tasnya dan menitipkannya kepada bibi. Ia berharap Kevin dapat mengerti dan bisa menerima kepergiannya.
            “Ya udah bi kalau begitu, saya titip surat buat Kevin ya!”
            “Oh, iya mbak, pasti besok saya akan berikan kepada mas Kevin kalau mas Kevinnya sudah pulang.”
            “Makasih ya bi, kalau begitu saya pamit dulu. Assalamualaikum.”
            “Ya mbak, sama - sama. Waalaikum salam.”
            Dengan perasaan yang kian tak menentu, Khanza melangkahkan kakinya ke rumah. Ia sudah pasrah dengan semua takdir yang menimpanya saat ini. Setelah waktu menunjukkan pukul 10.45, mama tampak mengetuk pintu kamar Khanza.
            “Khanza, ayo sayang kita harus segera berangkat.”
            “Iya ma, sebentar.”
            Dengan tidak semangat, Khanza membuka pintu kamarnya dan menemui mamanya.
            “Ayo dong sayang, kok kamu belum siap - siap sih nak?”
            “Iya ma, tadi Khanza habis tidur. Jadi belum sempat siap - siap.”
            “Ya sudah, sekarang kamu siap - siap. Mama dan papa tunggu kamu di bawah ya.”
            “Ya ma,” jawab Khanza singkat.
            Beberapa menit kemudian, Khanza sudah tampak siap untuk kepergiannya ke Amerika. Pesawat mereka pun take off pada pukul 1 siang.
                   *          *           *
            Dua hari telah berlalu.kevin telah pulang dari liburannya. Namun ia dikagetkan dengan surat pemberian dari Khanza.
            “Lho bi, ini surat siapa?”
            “Itu suratnya mas Kevin dari mbak Khanza.”
            “Dari Khanza, memangnya Khanza kenapa, kok pakai surat - suratan sagala.”
            “Lho, memangnya mas Kevin belum tahu ya?”
            “Tahu apa bi?”
            “Mbak Khanza kan pergi.”
            “Pergi kemana bi?”
            “Bibi dengar - dengar sih, mbak Khanza dan keluarganya pindah ke Amerika.”
            “Amerika??????”
            Dengan penuh tanda tanya Kevin pun membuka surat dari Khanza dan membacanya di ruang tamu.

           
                                                                             
                                                                             



Untuk Kevin,
Kev, aku minta maaf ya, mungkin saat kamu membaca surat ini aku sudah tidak ada disini lagi. Kev, aku harus ikut orang tuaku ke Amerika. Kata mereka, ada bisnis yang harus diurusi disana. Padahal kalau boleh jujur, aku lebih memilih tinggal disini daripada harus ikut orang tuaku.
Sekali lagi aku minta maaf  ya Kev, karena aku tidak bisa kasih tahu kamu secara langsung. Tapi aku janji, aku pasti akan segera kembali.
Tolong  jangan marah ya Kev!
I will always remember you.

Khanza,
 






           






Seketika Kevin merasa marah dan kecewa. Karena Khanza tidak memberitahunya sejak awal. Lalu ia merobek surat dari Khanza.
            Dua bulan segera berlalu. Untuk melupakan luka hati Kevin karena ditinggal pergi oleh Khanza, orang tua Kevin memutuskan untuk mengajak Kevin pindah ke Jakarta. Karena mereka yakin, Jakarta akan dapat mengobati luka hati Kevin dan sejenak dapat melupakan Bandung dan segala kenangan yang telah terukir indah.
                                                               *         *          *
5 tahun kemudian,
            Setelah sekian lama meninggalkan Indonesia, akhirnya Khanzadapat kembali ke Indonesia. Namun ia dan keluarganya akan tinggal di Jakarta.
            Setelah dua hari di Indonesia, Khanza memutuskan untuk pergi ke Bandung menemui Kevin, sahabatnya. Namun harapannya untuk menemui Kevin hanya sia - sia setelah ia mengetahui bahwa Kevin sudah tidak tinggal di Bandung lagi.
            “Permisi, Assalamualaikum.”
            “Waalaikum salam, eh ini mbak Khanza ya?”
            “Iya bi, bibi masih ingat saja.”
            “Ya pasti lah mbak, masa bibi lupa sih sama mbak. Terus maksud kedatangan mbak Khanza kemari untuk apa ya mbak?”
            “Saya mau menemui Kevin bi.”
            “Mas Kevin? Lho bukannya mas Kevin sudah pindah ke Jakarta dari 5 tahun yang lalu. Memangnya mbak Khanza belum tahu?”
            “Belum tuh bi, terus sekarang bibi tahu alamat Kevin di Jakarta?”
            “Aduh, maaf mbak, bibi nggak tahu.”
            “Oh gitu ya bi. Ya sudah, saya permisi dulu ya bi.”
            “Ya mbak.”
            “Assalamualaikum.”
            “Waalaikum salam.”
            Dengan membawa perasaan kecewa, Khanza memutuskan untuk kembali ke Jakarta.
                                          *         *           *
            Setelah seminggu di Jakarta, Khanza memuttuskan untuk kembali meneruskan sekolahnya. Sekarang ia sudah berumur 17 tahun dan duduk di kelas 3 SMA. Khanza meneruskan sekolahnya di SMA Bhakti Mulya tempat Kevin bersekolah.
            Bel tanda masuk berbunyi. Anak - anak yang masih berkeliaran di luar segera memasuki kelasnya masing - masing. Pagi itu murid - murid kelas XII A 2 tampak ceria. Namun keceriaan itu segera berakhir setelah bu Anin, guru matematika mereka memasuki ruang kelas.
            “Selamat pagi anak - anak.”
            “Selamat pagi bu,” jawab murid - murid serentak.
            “Anak - anak, pagi ini ibu membawa kabar gembira untuk kalian.”
            “Kabar apa bu?” Tanya salah satu murid.
            “Kalian akan kedatangan teman baru. Ya sudah, tidak perlu berlama - lama lagi. Ayo masuk!”
            “Selamat pagi semuanya,” sapa Khanza.
            “Pagi……..,” sapa murid - murid secara serentak.
            “Sekarang silahkan kamu memperkenalkan diri!”
            “Terima kasih bu. Perkenalkan nama saya Maura. Saya pindahan dari Amerika. Saya harap teman - teman dapat menerima kehadiran saya dan bisa menjadi teman saya.”
            “Oke cukup Maura, sekarang silahkan kamu duduk di sebelah Kevin!” Perintah bu Anin.
            Khanza pun segera menuju tempat duduk yang berada tepat di sebelah bangku Kevin, yang memang bangku di sebelahnya itu kosong.
            “Maaf, boleh saya duduk disini?” Tanya Khanza.
            “Oh, silahkan. Perkenalkan saya Kevin.”
            “Saya Maura.”
            Setelah mendengar nama Kevin, seketika Khanza menjadi teringat dengan Kevin sahabatnya. Dan entah kenapa Khanza merasa Kevin yang duduk di sebelahnya saat ini adalah Kevin sahabatnya. Namun belum sempat Khanza bertanya, bu Anin sudah mulai melanjutkan pelajarannya.
            Siang harinya saat istirahat, Khanza pergi ke perpustakaan. Saat di perpustakaan ia bertemu dengan Kevin. Lalu mereka berbincang - bincang sambil memilih buku yang akan mereka pinjam.
            “Siang Maura.”
            “Siang Kevin, kamu juga kesini Kev?”
            “Iya lah, aku kan kalau istirahat sering kesini.”
            “Berarti kamu hobbi membaca dong?”
            “Iyap, aku memang hobbi banget baca buku. Apalagi baca komik.”
            Setelah mendengar jawaban Kevin, seketika Khanza ingat akan sahabat kecilnya, Kevin. Dulu Kevin kecil juga sangat menyukai membaca komik.
            “Oh ya, kamu suka baca komik apa Kev?” Tanya Khanza lagi.
            “Aku suka banget baca komik Doraemon,” jawab Kevin.
            Keyakinan Khanza bahwa Kevin yang sedang berada di hadapannya sekarang ini adalah Kevin sahabat kecilnya dulu, semakin kuat. Namun belum jadi ia bertanya lagi, bel tanda masuk pun berbunyi. Kevin lalu mengajak Khanza untuk masuk ke kelas.

                                   *       *        *

            Tidak terasa, Khanza sudah hamper satu bulan sekolah di SMA Bhakti Mulya. Hubungannya dengan Kevin sudah semakin erat. Bahkan Kevin sudah dianggap Khanza seperti sahabat kecilnya sendiri.
            Hari itu tepat tanggal 21 Desember, 2 hari sebelum Khanza berulang tahun. Rencananya ia akan merayakan hari ulang tahunnya yang ke-17 tepat pada pada tanggal 23 Desember. Dengan dibantu oleh Rika dan Selly, Khanza menyeberkan undangan ulang tahunnya. Hamper semua murid kelas XII mendapat undangan, termasuk Kevin. Undangan untuk Kevin, Khanza berikan sendiri saat pulang sekolah.
            “Hai Kev, nih aku kasih undangan ulang tahunku.”
            “Oh, thank you Ra.”
            “Your welcome, jangan lupa datang ya !”
            “Pasti.”
            “Oke, kalau gitu aku duluan yah, bye.”
            “Bye.”
            Setelah Khanza tidak terlihat, Kevin pun membuka undangannya lalu membaca isinya.





                                                                                                           

To   : Kevin
Aku harap teman - teman bisa datang ke pesta ulang tahunku ya.
Pestanya akan diselenggarakan pada :
Hari, tanggal  : Minggu, 23 Desembar 2010
Waktu             : 19.00 WIB
Tempat           : di rumahku ( jl. Anggrek no. 2, Kemang, Jaksel)
Sebelumnya, terima kasih untuk kedatangan teman - teman.

                                                                                    From : Maura Khanza Adrian
 











           


Setelah membaca undangan itu dan membaca nama pengundangnya, Kevin menjadi ingat dengan Khanza, sahabat kecilnya. Mengingat, selama ini Kevin selalu nyaman berada di sisi Maura. Bahkan kerinduannya dengan Khanza dapat terobati ketika ia mengenal Maura. Lalu muncul seberkas pemikiran bahwa mungkinkah Maura yang selama ini ia kenal sebenarnya adalah Khanza, sahabat kecilnya yang meninggalkannya 5 tahun yang lalu. Mengingat pada waktu Maura memperkenalkan diri dulu, ia sempat bercerita bahwa ia pindahan dari Amerika.

                                         *        *          *

            Hari ini, tepat di tanggal 23 Desember Khanza merayakan ulang tahunnya yang ke-17. Sudah sejak pagi di rumahnya disibukkan dengan berbagai orang yang membantu mempersiapkan pesta nanti malam. Diantaranya ada Event Organizer dan catering.
            Sementara itu, di tempat lain tampak Kevin sibuk memilih hadiah yang akan ia berikan kepada Khanza.
            “Permisi mas, ada yang bisa saya bantu?” Tanya seorang pelayan.
           
            “Ya mbak, saya sedang mencari kado untuk teman saya. Tapi saya bingung mau memberikan dia hadiah apa.”
            “Maaf mas, kalau boleh saya tahu, temannya laki - laki atau perempuan?”
            “Perempuan mbak. Kira - kira apa ya mbak yang cocok saya berikan buat teman saya?”
            “Boneka saja mas. Perempuan kan biasanya suka dengan boneka.”
            “Oh iya, betul juga ya mbak.”
            Kevin lalu berpikir lagi. Boneka apa yang akan ia berikan pada Khanza. Lalu ia teringat akan Khanza kecil yang suka dengan boneka panda.
            “Mbak, tolong bungkuskan boneka panda itu ya mbak!” Pinta Kevin.
            “Baik mas,” jawab pelayan.
            Setelah mendapatkan kado, Kevin lalu pulang dan mempersiapkan diri untuk datang ke pesta ulang tahun Khanza nanti malam.

                                        *         *          *

            Jam menunjukkan pukul 7 malam. Khanza telah siap menerima tamunya dengan menggunakan gaun berwarna putih. Tak lama setelah Khanza keluar kamar, teman - temannya satu persatu datang.
            “Hai Maura, happy birthday,” ucap Selly dan Rika bersamaan.
            “Thank you girls.”
            “Nih hadiah buat kamu.”
            “Aduh, kalian pakai repot - repot harus bawa kado segala.”
            “Nggak papa kok.”
            “Makasih ya. Ya udah, kalian masuk sana! Terus cicipin makanan dan minuman yang ada di dalam.”
            “Beres…..”
            Setelah kehadiran beberapa temannya, akhirnya giliran Kevin yang datang.
            “Hallo Maura, happy birthday.”
            “Thank you.’
            “Nih aku kasih hadiah special buat kamu.”
            “Makasih, ya udah ayo masuk!”
            Tepat pada pukul 8 malam, acara tiup lilin dan potong kue segera dimulai. Semua undangan tampak berkumpul di ruang tengah. Setelah menyanyikan lagu ulang tahun, Khanza lalu make a wish dan meniup lilin. Dan dilanjutkan dengan potong kue. Kue pertama untuk mamanya, kue kedua untuk papanya, dan kue yang ketiga ia persembahkan untuk sahabat kecilnya, Kevin.
            “Oke, dan untuk potongan kue yang ketiga ini saya persembahkan untuk sahabat kecil saya, Kevin. Walaupun dia sekarang tidak ada disini, tapi saya yakin dia saat ini juga diliputi kebahagiaan. Dan saya juga berharap suatu saat nanti saya dapat bertemu dengan dia lagi setelah 5 tahun saya tidak bertemu karena saya harus pindah ke Amerika.”
            Seketika Kevin kaget dan tidak menyangka bahwa dugaannya selama ini benar, bahwa Maura yang selama ini ia kenal adalah Khanza sahabat kecilnya. Ia lalu mendekati Khanza.
            “Khanza, ini benar kamu?”
            “Jadi, kamu Kevin. Kevin Reynaldi Hutama?”
            “Ya, aku Kevin Reynaldi Hutama sahabat kecil kamu. Dan kamu adalah Maura Khanza Adrian, sahabat kecilku kan?”
            “Iya, aku Khanza. Akhirnya kita bisa bertemu lagi.”
            Mereka lalu saling berpelukan untuk saling melepas rindu. Teman - teman yang melihat mereka pun tampak ikut larut dalam keharuan.

                                      *        *         *

            Keesokan harinya, suasana SMA Bhakti Mulya tampak ramai. Udara terlihat cerah, dan sesekali terdengar kicau burung. Sementara itu di pintu gerbang sekolah, tampak Kevin sedang menunggu seseorang. Tak lama setelah ia menunggu, yang ditunggu pun datang.
            “Pagi princess panda,” sapa Kevin.
            “Pagi. Ihhhh……. kamu masih ingat saja ya sama panggilan aku dulu.”
            “Mana mungkin sih aku lupa sama princess panda.”
            “Oke deh prince imutku.”
            “Ya udah, ke kelas yuk!’
            “Ayukk….”
            Selama perjalanan ke kelas mereka tampak rukun dan saling bercanda satu sama lain. Seolah - olah mereka kembali pada masa - masa SD dulu sewaktu masih tinggal di Bandung.
            Pada saat jam istirahat Kevin mengajak Khanza duduk di taman di bawah pohon rindang. Disana mereka saling berikrar janji kesetiaan mereka sabagai sahabat.
            “Khanza, aku pingin banget kamu janji sama aku.”
            “Janji apa Kev?”
            “Janji untuk tidak meninggalkan aku lagi.”
            “Ya ampun Kev, jadi kamu masih takut aku ninggalin kamu lagi?”
            “Iya Za, aku takut kamu ninggalin aku lagi.”
            “Tenang saja Kev, aku nggak akan kemana - mana kok. Dan aku janji tidak akan ninggalin kamu lagi.”
            “Janji?”
            “Janji deh.”
            “Suer?”
            “Suer.”
            “Oke, aku pegang janji kamu.”
            “Never mind.”
            Kedua sahabat itu lalu saling berpelukan, dan pohon rindang yang menaungi mereka menjadi saksi janji persahabatan mereka.



                                                                   ~SELESAI~

cerpen # 1


Cemburu Menguras Hati
                                                                Oleh Nur Hasanah

            Pagi itu aku terbangun mendengar nyanyian burung yang terdengar merdu ditelingaku. Aku pun segera bangun dan merapikan tempat tidurku. Lalu aku pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan menunaikan sholat subuh. Setelah selesai, aku segera mandi dan bersiap - siap  menyambut kedatangan sepupuku dari Yogyakarta. Ya, hari ini memang ia dan keluarganya akan datang. Tepat pukul 8 pagi orang yang kutunggu akhirnya datang. Kami pun saling melepas rindu dengan berbincang - bincang di ruang keluarga.
            “Bagaimana dengan sekolahmu Sha?” Tanya pamanku dengan logat jawanya yang masih sangat kental, sehingga membuat kami semua tertawa.
            “Alhamdulillah lancar, lalu bagaimana dengan kamu Put?” Tanyaku dengan penuh keceriaan.
            “Lancar juga kok Sha, tapi rencananya aku mau pindah sekolah disini.” 
            “Wah, aku bakalan senang sekali kok kalau kamu mau sekolah disini, karena kamu bisa satu sekolah sama aku dan kita bisa berangkat bareng.” Jawabku dengan sangat antusias.
            “Iya……, aku juga senang sekali kok kalau bisa sekolah disini.”
            Perbincangan kami harus terhenti ketika kami akan melakukan makan siang. Dan setelah makan siang, kami melanjutkan perbincangan kami kembali.
   *     *    *  
            Tidak terasa, sudah satu minggu keluarga pamanku ada dirumahku. Mereka pun akan segera kembali ke Yogyakarta. Namun, Putri, sepupuku akan tetap berada disini karena ia akan melanjutkan sekolah di Jakarta.
            Tepat hari senin, adalah hari pertama Putri sekolah di Jakarta. Pagi -pagi sekali ia sudah sangat sibuk mempersiapkan diri untuk bersekolah. Kami sekeluarga pun dibuat terheran - heran melihat tingkah Putri. Pukul 6.15 kamipun berangkat sekolah.
            Sesampainya di sekolah, aku segera mengantar Putri ke ruang guru. Setelah selesai aku segera masuk ke kelasku. ketika memasuki kelas aku telah disambut oleh dua sahabatku, Reva dan Arin.
            “Selamat pagi Tasha!” Sambut mereka dengan berseri - seri.
            “Selamat pagi,” sahutku singkat.
            Kami pun segera duduk di tempat duduk kami masing - masing karena bel tanda masuk telah berbunyi. Bu Indah, guru bahasa inggris kamipun juga telah memasuki kelas. Bu Indah masuk kelas dengan membawa Putri. Bu Indah lalu memperkenalkan Putri kepada kami. Setelah selesai memperkenalkan Putri, bu Indah segera menyuruh Putri duduk di bangku sebelah Fandi. Seketika aku merasa sangat cemburu, namun aku segera memendam perasaan itu dan berkonsentrasi pada pelajaran bahasa inggris bu Indah.
            Setelah pelajaran bahasa inggris berjalan sekitar 30 menit, bu Indah lalu mengumumkan kepada kami untuk mengerjakan tugas tambahan.
“Anak - anak, berhubung sebentar lagi akan ujian akhir semester, maka ibu akan memberikan tugas tambahan kepada kalian,” perintah bu Indah.
“Tugas apa bu?” Kamipun bertanya secara serempak.
“Tugas kalian yaitu membuat karangan bahasa inggris yang bertema alam yang akan dikerjakan secara kelompok. Setiap kelompok terdiri dari tiga anak,” bu Indah menjelaskan dengan sangat bijaksana.
Dan ternyata aku satu kelompok dengan Putri dan Fandi. Disatu sisi aku sangat senang bisa satu kelompok dengan Fandi, namun disatu sisi aku juga sangat kesal karena harus satu kelompok dengan Fandi dan Putri.
         *    *    *
            Dua hari setelah pengumuman tugas tambahan yang diberikan oleh bu Indah, aku, Putri dan Fandi pun segera menyusun rencana untuk mengerjakan tugas itu. Namun semakin hari aku semakin kesal karena melihat Putri yang semakin dekat dan akrab dengan Fandi. Meskipun demikian, aku tetap tidak bisa marah karena bagaimanapun Putri adalah sepupuku. Hampir setiap hari aku harus selalu menahan rasa sakit hatiku karena sering melihat Fandi dan Putri berduaan.
            Hari ini rencananya aku, Fandi dan Putri akan mengerjakan tugas dirumahku. Namun karena aku harus mampir ke toko buku, Fandi dan Putri aku biarkan untuk pulang terlebih dahulu. Sesampainya di rumah, mereka pun segera mengerjakan tugas. Mereka terlihat sangat akrab dan dekat sekali. Aku yang baru dating pun kaget melihat mereka yang sedang berduaan. Hatiku bagaikan tersayat sembilu melihat kedekatan mereka. Sampai - sampai aku tak menyadari buku yang aku bawa terjatuh di lantai, “Brakkkkkkk…….” Seketika Fandi dan Putri menoleh kearahku.
            “Tasha……,” ucap  Fandi dan Putri hampir bersamaan.     
            Aku pun segera lari kekamarku. Putri tampak mengejarku dan mencoba menjelaskan semuanya padaku. Namun aku tetap tidak menggubrisnya dan terus menangis tersedu - sedu. Fandi yang merasa bingung pun ikut membujukku agar mau keluar kamar.
            “Tasha, buka pintunya dong! Kita bisa bicarain ini baik - baik kok.” Bujuk Fandi dengan lembut dan penuh perhatian.
            “Sudahlah Fan, kamu pulang saja. Aku sedang ingin sendiri.”
            Malam harinya setelah selesai makan malam, Putri mendekatiku dan meminta maaf.
            “Sha, aku minta maaf ya untuk yang tadi siang.”
            “Sudahlah Put, ini semua bukan salah kamu kok. Jadi kamu tidak perlu minta maaf. Aku tahu ini semua memang salahku sendiri. Aku menyukai laki - laki yang tidak pernah menyukaiku. Seharusnya aku tahu dari awal kalau semua ini pasti akan terjadi.” Aku bercerita sambil menahan air mataku.
            Setelah aku selesai menceritakan semuanya kepada Putri, aku lalu meninggalkan Putri sendirian di meja makan.
        *    *    *
            Keesokan harinya, aku berjalan sendirian di taman setelah pulang sekolah. Aku memikirkan semua peristiwa yang terjadi padaku akhir - akhir ini. Tiba - tiba ada seseorang yang memanggilku. Aku menoleh kebelakang dan aku melihat sosok Fandi berjalan kearahku  dan mengajakku untuk duduk di kursi taman.
            “Sha, ada yang mau aku bicarain sama kamu,” Fandi memulai pembicaraan diantara kami.
            “Apa yang mau kamu bicarain sama aku?” Tanyaku dengan suara lirih.
            “Sebenarnya selama ini aku tidak ada hubungan apa - apa dangan Putri. Kalaupun kita sering ngobrol bareng, itupun kita pasti membahas tentang pelajaran,” Fandi menjelaskan dengan panjang lebar.
            “Lalu apa hubungannya sama aku?” Tanyaku lagi.
            “Aku tahu Sha, kamu cemburu. Kamu pasti salah paham antara aku dan Putri.”
            “Lalu, setelah kamu tahu aku cemburu, apa yang ingin kamu lakukan?”
            “Aku cuma ingin kamu tahu, kalau aku sayang sama kamu,” kata - kata Fandi yang terakhir itu membuatku sangat kaget. Akupun merasakan darahku seperti berhenti mengalir.
            Setelah Fandi menjelaskan semuanya padaku, akupun merasa sangat terharu. Aku tidak menyangka kalau selama ini Fandi menyimpan rasa yang sama denganku. Dan mulai hari ini kami telah resmi berpacaran.
            Ketika aku telah sampai di rumah, aku segera mencari Putri dan meminta maaf karena telah salah paham padanya. Putri pun mau memaafkanku. Lalu kami saling berpelukan dan bercanda lagi seperti dahulu. Dan pada akhirnya semua akan menjadi indah pada waktunya.



                                    ~SELESAI~