Cemburu Menguras Hati
Oleh Nur Hasanah
Pagi itu
aku terbangun mendengar nyanyian burung yang terdengar merdu ditelingaku. Aku
pun segera bangun dan merapikan tempat tidurku. Lalu aku pergi ke kamar mandi
untuk mengambil air wudhu dan menunaikan sholat subuh. Setelah selesai, aku
segera mandi dan bersiap - siap
menyambut kedatangan sepupuku dari Yogyakarta. Ya, hari ini memang ia
dan keluarganya akan datang. Tepat pukul 8 pagi orang yang kutunggu akhirnya
datang. Kami pun saling melepas rindu dengan berbincang - bincang di ruang
keluarga.
“Bagaimana
dengan sekolahmu Sha?” Tanya pamanku dengan logat jawanya yang masih sangat
kental, sehingga membuat kami semua tertawa.
“Alhamdulillah
lancar, lalu bagaimana dengan kamu Put?” Tanyaku dengan penuh keceriaan.
“Lancar
juga kok Sha, tapi rencananya aku mau pindah sekolah disini.”
“Wah, aku
bakalan senang sekali kok kalau kamu mau sekolah disini, karena kamu bisa satu
sekolah sama aku dan kita bisa berangkat bareng.” Jawabku dengan sangat
antusias.
“Iya……,
aku juga senang sekali kok kalau bisa sekolah disini.”
Perbincangan
kami harus terhenti ketika kami akan melakukan makan siang. Dan setelah makan
siang, kami melanjutkan perbincangan kami kembali.
* *
*
Tidak
terasa, sudah satu minggu keluarga pamanku ada dirumahku. Mereka pun akan
segera kembali ke Yogyakarta. Namun, Putri, sepupuku akan tetap berada disini
karena ia akan melanjutkan sekolah di Jakarta.
Tepat hari
senin, adalah hari pertama Putri sekolah di Jakarta. Pagi -pagi sekali ia sudah
sangat sibuk mempersiapkan diri untuk bersekolah. Kami sekeluarga pun dibuat
terheran - heran melihat tingkah Putri. Pukul 6.15 kamipun berangkat sekolah.
Sesampainya
di sekolah, aku segera mengantar Putri ke ruang guru. Setelah selesai aku
segera masuk ke kelasku. ketika memasuki kelas aku telah disambut oleh dua
sahabatku, Reva dan Arin.
“Selamat
pagi Tasha!” Sambut mereka dengan berseri - seri.
“Selamat
pagi,” sahutku singkat.
Kami pun
segera duduk di tempat duduk kami masing - masing karena bel tanda masuk telah
berbunyi. Bu Indah, guru bahasa inggris kamipun juga telah memasuki kelas. Bu
Indah masuk kelas dengan membawa Putri. Bu Indah lalu memperkenalkan Putri
kepada kami. Setelah selesai memperkenalkan Putri, bu Indah segera menyuruh
Putri duduk di bangku sebelah Fandi. Seketika aku merasa sangat cemburu, namun
aku segera memendam perasaan itu dan berkonsentrasi pada pelajaran bahasa
inggris bu Indah.
Setelah
pelajaran bahasa inggris berjalan sekitar 30 menit, bu Indah lalu mengumumkan
kepada kami untuk mengerjakan tugas tambahan.
“Anak - anak, berhubung
sebentar lagi akan ujian akhir semester, maka ibu akan memberikan tugas
tambahan kepada kalian,” perintah bu Indah.
“Tugas apa bu?” Kamipun
bertanya secara serempak.
“Tugas kalian yaitu
membuat karangan bahasa inggris yang bertema alam yang akan dikerjakan secara
kelompok. Setiap kelompok terdiri dari tiga anak,” bu Indah menjelaskan dengan
sangat bijaksana.
Dan ternyata aku satu kelompok
dengan Putri dan Fandi. Disatu sisi aku sangat senang bisa satu kelompok dengan
Fandi, namun disatu sisi aku juga sangat kesal karena harus satu kelompok
dengan Fandi dan Putri.
* *
*
Dua hari
setelah pengumuman tugas tambahan yang diberikan oleh bu Indah, aku, Putri dan
Fandi pun segera menyusun rencana untuk mengerjakan tugas itu. Namun semakin
hari aku semakin kesal karena melihat Putri yang semakin dekat dan akrab dengan
Fandi. Meskipun demikian, aku tetap tidak bisa marah karena bagaimanapun Putri
adalah sepupuku. Hampir setiap hari aku harus selalu menahan rasa sakit hatiku
karena sering melihat Fandi dan Putri berduaan.
Hari ini
rencananya aku, Fandi dan Putri akan mengerjakan tugas dirumahku. Namun karena
aku harus mampir ke toko buku, Fandi dan Putri aku biarkan untuk pulang
terlebih dahulu. Sesampainya di rumah, mereka pun segera mengerjakan tugas.
Mereka terlihat sangat akrab dan dekat sekali. Aku yang baru dating pun kaget
melihat mereka yang sedang berduaan. Hatiku bagaikan tersayat sembilu melihat
kedekatan mereka. Sampai - sampai aku tak menyadari buku yang aku bawa terjatuh
di lantai, “Brakkkkkkk…….” Seketika Fandi dan Putri menoleh kearahku.
“Tasha……,”
ucap Fandi dan Putri hampir
bersamaan.
Aku pun
segera lari kekamarku. Putri tampak mengejarku dan mencoba menjelaskan semuanya
padaku. Namun aku tetap tidak menggubrisnya dan terus menangis tersedu - sedu.
Fandi yang merasa bingung pun ikut membujukku agar mau keluar kamar.
“Tasha,
buka pintunya dong! Kita bisa bicarain ini baik - baik kok.” Bujuk Fandi dengan
lembut dan penuh perhatian.
“Sudahlah
Fan, kamu pulang saja. Aku sedang ingin sendiri.”
Malam
harinya setelah selesai makan malam, Putri mendekatiku dan meminta maaf.
“Sha, aku
minta maaf ya untuk yang tadi siang.”
“Sudahlah
Put, ini semua bukan salah kamu kok. Jadi kamu tidak perlu minta maaf. Aku tahu
ini semua memang salahku sendiri. Aku menyukai laki - laki yang tidak pernah
menyukaiku. Seharusnya aku tahu dari awal kalau semua ini pasti akan terjadi.”
Aku bercerita sambil menahan air mataku.
Setelah
aku selesai menceritakan semuanya kepada Putri, aku lalu meninggalkan Putri
sendirian di meja makan.
* *
*
Keesokan
harinya, aku berjalan sendirian di taman setelah pulang sekolah. Aku memikirkan
semua peristiwa yang terjadi padaku akhir - akhir ini. Tiba - tiba ada
seseorang yang memanggilku. Aku menoleh kebelakang dan aku melihat sosok Fandi
berjalan kearahku dan mengajakku untuk
duduk di kursi taman.
“Sha, ada
yang mau aku bicarain sama kamu,” Fandi memulai pembicaraan diantara kami.
“Apa yang
mau kamu bicarain sama aku?” Tanyaku dengan suara lirih.
“Sebenarnya
selama ini aku tidak ada hubungan apa - apa dangan Putri. Kalaupun kita sering
ngobrol bareng, itupun kita pasti membahas tentang pelajaran,” Fandi
menjelaskan dengan panjang lebar.
“Lalu apa
hubungannya sama aku?” Tanyaku lagi.
“Aku tahu
Sha, kamu cemburu. Kamu pasti salah paham antara aku dan Putri.”
“Lalu,
setelah kamu tahu aku cemburu, apa yang ingin kamu lakukan?”
“Aku cuma
ingin kamu tahu, kalau aku sayang sama kamu,” kata - kata Fandi yang terakhir
itu membuatku sangat kaget. Akupun merasakan darahku seperti berhenti mengalir.
Setelah
Fandi menjelaskan semuanya padaku, akupun merasa sangat terharu. Aku tidak
menyangka kalau selama ini Fandi menyimpan rasa yang sama denganku. Dan mulai
hari ini kami telah resmi berpacaran.
Ketika aku
telah sampai di rumah, aku segera mencari Putri dan meminta maaf karena telah
salah paham padanya. Putri pun mau memaafkanku. Lalu kami saling berpelukan dan
bercanda lagi seperti dahulu. Dan pada akhirnya semua akan menjadi indah pada
waktunya.
~SELESAI~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar