Sahabat Kecilku
Siang itu cuaca sedang tak bersahabat. Hujan deras turun
sejak pukul 10 pagi. Tak ada aktivitas
yang dilakukan di luar rumah, termasuk Khanza dan Kevin, sepasang sahabat yang selalu rukun dan kompak, yang
siang itu juga memilih beristirahat di dalam rumah.
Khanza
yang merasa sedikit kedinginan, siang itu ia memutuskan untuk minum secangkir
teh hangat ditemani biscuit coklat buatan mamanya. Namun istirahatnya itu
segera terganggu oleh kedatangan Kevin.
“Hai
Khanza, apa kabarnya hari ini?”, sapa Kevin.
“ Duh
Kev, kamu ngagetin aku saja deh”, tukas Khanza. “Ngapain sih, hujan-hujan
begini pake acara main ke rumahku segala, memangnya kamu nggak dimarahin mama
kamu?” Tanya Khanza.
“Kamu
kayak nggak tau aku saja Za, aku kan orangnya emang ngak bias ditentang”, jawab
Kevin.
Akhirnya kedua
sahabat tadi saling bercengkerama dan bercanda. Sampai-sampai mereka tak
menyadari bahwa hujan telah reda dan suasana di luar sudah mulai kembali
seperti biasa.
*
* *
Siang
itu, setelah pulang sekolah Kevin mengajak Khanza bermain di taman dekat rumah
Khanza. Namun, belum lama mereka bermain, Khanza tampak dicari oleh mamanya dan
disuruh untuk segera pulang ke rumah.
“Lho ma,
memangnya ada apa sih, kok mama nyuruh
aku pulang sekarang? Tadi kan aku udah makan siang ma”, jawab Khanza.
“Iya
mama tau sayang, tapi ada hal penting yang harus mama dan papa bicarakan dengan
kamu. Jadi sekarang kamu pulang dulu ya nak!” bujuk mama dengan pelan.
“Ya udah
deh kalau gitu, aku pulang duluan ya Kev”.
Dengan
tak bersemangat Kevin pun menjawab.
“Oke,
tapi nanti sore kita main lagi ya?”
Dengan
semangat Khanza menjawab, “okedeh Kevin”.
Akhirnya
Khanza dan mamanya segera pulang dan meninggalkan Kevin sendirian di taman.
* *
*
“Assalamu’alaikum”,
ucap Khanza setelah membuka pintu.
“Wa’alaikum salam”, jawab papa.
“Ayo, duduk sayang! Papa mau memberitahu kamu sesuatu”.
“Apaan sih pa, bikin Khanza
penasaran saja deh”.
Setelah menghela napas panjang, akhirnya
papa memulai pembicaraan.
“Begini sayang,
minggu depan rencananya papa, mama dan kamu akan pindah ke Amerika. Kita akan
tinggal disana selama kurang lebih 5 tahun. Jadi papa minta kamu bersedia ikut
papa dan mama pindah serta kamu harus pindah sekolah ke Amerika untuk sementara
waktu”.
“Apa pa? Tapi
kenapa papa ngasih tahunya ke Khanza mendadak. Apa sanggup Khanza meninggalkan
semua yang ada disini selama 5 tahun nanti”, isak Khanza.
“Kamu pasti bias
sayang, papa yakin itu. Papa tahu ini semua pasti berat buat kamu. Tapi ini
semua demi kebaikan kamu nak”.
“Tapi kenapa sih
pa, kita harus pindah ke Amerika?”
“Papa harus
mengurusi bisnis papa yang disana sayang.”
“Disana kan
sudah ada om Roni dan tante Maya, jadi kenapa mesti khawatir?” Tanya Khanza
lagi.
“Ya, memang
disana sudah ada om dan tante kamu. Tapi tanpa kehadiran papa disana perusahaan
tidak akan berjalan sempurna”, jawab papa.
“Huh……….,
terserah papa deh”.
Akhirnya dengan
mata berkaca - kaca, Khanza lari meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamarnya.
Di kamarnya ia menangis dan terus memandangi fotonya bersama Kevin.
Bagaimanapun Khanza tidak akan sanggup menceritakan rencana kepergiannya kepada
Kevin. Ia tidak rela jika harus berpisah
dari Kevin selama 5 tahun. Akhirnya dengan terus meneteskan air mata,
Khanza menulis surat untuk Kevin.
* * *
menceritakan rencana kepergiannya
kepada Kevin. Waktu menunjukkan pukul 10 pagi, 2 jam sebelum keberangkatan
Khanza. Dengan langkah gontai, Khanza memberanikan diri untuk pergi ke rumah Kevin.
“Assalamualaikum………..,
Assalamualaikum………..”
“Waalaikum salam, eh mbak Khanza.
Ada apa mbak, mau Akhirnya, hari kepergian Khanza pun telah tiba. Namun hingga
hari menjelang kepergiannya, ia masih tetap belum mencari mas Kevin ya?” Tanya
bibi.
“Iya bi, Kevinnya ada?”
“Aduh mbak, baru saja mas Kevinnya
pergi.”
“Pergi kemana bi?”
“Pergi ke Puncak sama bapak dan ibu.
Katanya sih, mau liburan 2 hari di vila mereka.”
“Deggggg”, Khanza serasa tersambar
petir. Kesempatannya untuk mengatakan rencana kepergiannya kini telah musnah.
Lalu Khanza mengambil surat yang ada didalam tasnya dan menitipkannya kepada
bibi. Ia berharap Kevin dapat mengerti dan bisa menerima kepergiannya.
“Ya udah bi kalau begitu, saya titip
surat buat Kevin ya!”
“Oh, iya mbak, pasti besok saya akan
berikan kepada mas Kevin kalau mas Kevinnya sudah pulang.”
“Makasih ya bi, kalau begitu saya
pamit dulu. Assalamualaikum.”
“Ya mbak, sama - sama. Waalaikum
salam.”
Dengan perasaan yang kian tak
menentu, Khanza melangkahkan kakinya ke rumah. Ia sudah pasrah dengan semua
takdir yang menimpanya saat ini. Setelah waktu menunjukkan pukul 10.45, mama
tampak mengetuk pintu kamar Khanza.
“Khanza, ayo sayang kita harus segera
berangkat.”
“Iya ma, sebentar.”
Dengan tidak semangat, Khanza
membuka pintu kamarnya dan menemui mamanya.
“Ayo dong sayang, kok kamu belum
siap - siap sih nak?”
“Iya ma, tadi Khanza habis tidur.
Jadi belum sempat siap - siap.”
“Ya sudah, sekarang kamu siap -
siap. Mama dan papa tunggu kamu di bawah ya.”
“Ya ma,” jawab Khanza singkat.
Beberapa menit kemudian, Khanza
sudah tampak siap untuk kepergiannya ke Amerika. Pesawat mereka pun take off
pada pukul 1 siang.
* * *
Dua hari telah berlalu.kevin telah
pulang dari liburannya. Namun ia dikagetkan dengan surat pemberian dari Khanza.
“Lho bi, ini surat siapa?”
“Itu suratnya mas Kevin dari mbak
Khanza.”
“Dari Khanza, memangnya Khanza
kenapa, kok pakai surat - suratan sagala.”
“Lho, memangnya mas Kevin belum tahu
ya?”
“Tahu apa bi?”
“Mbak Khanza kan pergi.”
“Pergi kemana bi?”
“Bibi dengar - dengar sih, mbak
Khanza dan keluarganya pindah ke Amerika.”
“Amerika??????”
Dengan penuh tanda tanya Kevin pun
membuka surat dari Khanza dan membacanya di ruang tamu.
|
Untuk Kevin,
Kev, aku minta maaf ya, mungkin saat kamu membaca surat ini aku
sudah tidak ada disini lagi. Kev, aku harus ikut orang tuaku ke Amerika.
Kata mereka, ada bisnis yang harus diurusi disana. Padahal kalau boleh
jujur, aku lebih memilih tinggal disini daripada harus ikut orang tuaku.
Sekali lagi aku minta maaf
ya Kev, karena aku tidak bisa kasih tahu kamu secara langsung. Tapi
aku janji, aku pasti akan segera kembali.
Tolong jangan marah ya
Kev!
I will always remember you.
Khanza,
|
Seketika Kevin
merasa marah dan kecewa. Karena Khanza tidak memberitahunya sejak awal. Lalu ia
merobek surat dari Khanza.
Dua bulan segera berlalu. Untuk
melupakan luka hati Kevin karena ditinggal pergi oleh Khanza, orang tua Kevin
memutuskan untuk mengajak Kevin pindah ke Jakarta. Karena mereka yakin, Jakarta
akan dapat mengobati luka hati Kevin dan sejenak dapat melupakan Bandung dan
segala kenangan yang telah terukir indah.
* * *
5 tahun kemudian,
Setelah sekian lama meninggalkan Indonesia,
akhirnya Khanzadapat kembali ke Indonesia. Namun ia dan keluarganya akan
tinggal di Jakarta.
Setelah dua hari di Indonesia,
Khanza memutuskan untuk pergi ke Bandung menemui Kevin, sahabatnya. Namun
harapannya untuk menemui Kevin hanya sia - sia setelah ia mengetahui bahwa
Kevin sudah tidak tinggal di Bandung lagi.
“Permisi, Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam, eh ini mbak Khanza
ya?”
“Iya bi, bibi masih ingat saja.”
“Ya pasti lah mbak, masa bibi lupa
sih sama mbak. Terus maksud kedatangan mbak Khanza kemari untuk apa ya mbak?”
“Saya mau menemui Kevin bi.”
“Mas Kevin? Lho bukannya mas Kevin
sudah pindah ke Jakarta dari 5 tahun yang lalu. Memangnya mbak Khanza belum
tahu?”
“Belum tuh bi, terus sekarang bibi
tahu alamat Kevin di Jakarta?”
“Aduh, maaf mbak, bibi nggak tahu.”
“Oh gitu ya bi. Ya sudah, saya
permisi dulu ya bi.”
“Ya mbak.”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.”
Dengan membawa perasaan kecewa,
Khanza memutuskan untuk kembali ke Jakarta.
* * *
Setelah seminggu di Jakarta, Khanza
memuttuskan untuk kembali meneruskan sekolahnya. Sekarang ia sudah berumur 17
tahun dan duduk di kelas 3 SMA. Khanza meneruskan sekolahnya di SMA Bhakti Mulya
tempat Kevin bersekolah.
Bel tanda masuk berbunyi. Anak -
anak yang masih berkeliaran di luar segera memasuki kelasnya masing - masing.
Pagi itu murid - murid kelas XII A 2 tampak ceria. Namun keceriaan itu segera
berakhir setelah bu Anin, guru matematika mereka memasuki ruang kelas.
“Selamat pagi anak - anak.”
“Selamat pagi bu,” jawab murid -
murid serentak.
“Anak - anak, pagi ini ibu membawa
kabar gembira untuk kalian.”
“Kabar apa bu?” Tanya salah satu
murid.
“Kalian akan kedatangan teman baru. Ya
sudah, tidak perlu berlama - lama lagi. Ayo masuk!”
“Selamat pagi semuanya,” sapa
Khanza.
“Pagi……..,” sapa murid - murid
secara serentak.
“Sekarang silahkan kamu
memperkenalkan diri!”
“Terima kasih bu. Perkenalkan nama
saya Maura. Saya pindahan dari Amerika. Saya harap teman - teman dapat menerima
kehadiran saya dan bisa menjadi teman saya.”
“Oke cukup Maura, sekarang silahkan
kamu duduk di sebelah Kevin!” Perintah bu Anin.
Khanza pun segera menuju tempat
duduk yang berada tepat di sebelah bangku Kevin, yang memang bangku di
sebelahnya itu kosong.
“Maaf, boleh saya duduk disini?”
Tanya Khanza.
“Oh, silahkan. Perkenalkan saya
Kevin.”
“Saya Maura.”
Setelah mendengar nama Kevin,
seketika Khanza menjadi teringat dengan Kevin sahabatnya. Dan entah kenapa
Khanza merasa Kevin yang duduk di sebelahnya saat ini adalah Kevin sahabatnya.
Namun belum sempat Khanza bertanya, bu Anin sudah mulai melanjutkan
pelajarannya.
Siang harinya saat istirahat, Khanza
pergi ke perpustakaan. Saat di perpustakaan ia bertemu dengan Kevin. Lalu
mereka berbincang - bincang sambil memilih buku yang akan mereka pinjam.
“Siang Maura.”
“Siang Kevin, kamu juga kesini Kev?”
“Iya lah, aku kan kalau istirahat
sering kesini.”
“Berarti kamu hobbi membaca dong?”
“Iyap, aku memang hobbi banget baca
buku. Apalagi baca komik.”
Setelah mendengar jawaban Kevin,
seketika Khanza ingat akan sahabat kecilnya, Kevin. Dulu Kevin kecil juga
sangat menyukai membaca komik.
“Oh ya, kamu suka baca komik apa
Kev?” Tanya Khanza lagi.
“Aku suka banget baca komik
Doraemon,” jawab Kevin.
Keyakinan Khanza bahwa Kevin yang
sedang berada di hadapannya sekarang ini adalah Kevin sahabat kecilnya dulu,
semakin kuat. Namun belum jadi ia bertanya lagi, bel tanda masuk pun berbunyi.
Kevin lalu mengajak Khanza untuk masuk ke kelas.
* * *
Tidak terasa, Khanza sudah hamper
satu bulan sekolah di SMA Bhakti Mulya. Hubungannya dengan Kevin sudah semakin
erat. Bahkan Kevin sudah dianggap Khanza seperti sahabat kecilnya sendiri.
Hari itu tepat tanggal 21 Desember,
2 hari sebelum Khanza berulang tahun. Rencananya ia akan merayakan hari ulang
tahunnya yang ke-17 tepat pada pada tanggal 23 Desember. Dengan dibantu oleh
Rika dan Selly, Khanza menyeberkan undangan ulang tahunnya. Hamper semua murid
kelas XII mendapat undangan, termasuk Kevin. Undangan untuk Kevin, Khanza
berikan sendiri saat pulang sekolah.
“Hai Kev, nih aku kasih undangan
ulang tahunku.”
“Oh, thank you Ra.”
“Your welcome, jangan lupa datang ya
!”
“Pasti.”
“Oke, kalau gitu aku duluan yah,
bye.”
“Bye.”
Setelah Khanza tidak terlihat, Kevin
pun membuka undangannya lalu membaca isinya.
|
To : Kevin
Aku harap teman - teman bisa datang ke pesta ulang
tahunku ya.
Pestanya akan diselenggarakan pada :
Hari, tanggal
: Minggu, 23 Desembar 2010
Waktu
: 19.00 WIB
Tempat
: di rumahku ( jl. Anggrek no. 2, Kemang, Jaksel)
Sebelumnya, terima kasih untuk kedatangan teman -
teman.
From
: Maura Khanza Adrian
|
Setelah membaca
undangan itu dan membaca nama pengundangnya, Kevin menjadi ingat dengan Khanza,
sahabat kecilnya. Mengingat, selama ini Kevin selalu nyaman berada di sisi
Maura. Bahkan kerinduannya dengan Khanza dapat terobati ketika ia mengenal
Maura. Lalu muncul seberkas pemikiran bahwa mungkinkah Maura yang selama ini ia
kenal sebenarnya adalah Khanza, sahabat kecilnya yang meninggalkannya 5 tahun
yang lalu. Mengingat pada waktu Maura memperkenalkan diri dulu, ia sempat
bercerita bahwa ia pindahan dari Amerika.
* * *
Hari ini, tepat di tanggal 23
Desember Khanza merayakan ulang tahunnya yang ke-17. Sudah sejak pagi di
rumahnya disibukkan dengan berbagai orang yang membantu mempersiapkan pesta nanti
malam. Diantaranya ada Event Organizer dan catering.
Sementara itu, di tempat lain tampak
Kevin sibuk memilih hadiah yang akan ia berikan kepada Khanza.
“Permisi mas, ada yang bisa saya
bantu?” Tanya seorang pelayan.
“Ya mbak, saya sedang mencari kado
untuk teman saya. Tapi saya bingung mau memberikan dia hadiah apa.”
“Maaf mas, kalau boleh saya tahu,
temannya laki - laki atau perempuan?”
“Perempuan mbak. Kira - kira apa ya
mbak yang cocok saya berikan buat teman saya?”
“Boneka saja mas. Perempuan kan
biasanya suka dengan boneka.”
“Oh iya, betul juga ya mbak.”
Kevin lalu berpikir lagi. Boneka apa
yang akan ia berikan pada Khanza. Lalu ia teringat akan Khanza kecil yang suka
dengan boneka panda.
“Mbak, tolong bungkuskan boneka
panda itu ya mbak!” Pinta Kevin.
“Baik mas,” jawab pelayan.
Setelah mendapatkan kado, Kevin lalu
pulang dan mempersiapkan diri untuk datang ke pesta ulang tahun Khanza nanti
malam.
* * *
Jam menunjukkan pukul 7 malam.
Khanza telah siap menerima tamunya dengan menggunakan gaun berwarna putih. Tak
lama setelah Khanza keluar kamar, teman - temannya satu persatu datang.
“Hai Maura, happy birthday,” ucap
Selly dan Rika bersamaan.
“Thank you girls.”
“Nih hadiah buat kamu.”
“Aduh, kalian pakai repot - repot
harus bawa kado segala.”
“Nggak papa kok.”
“Makasih ya. Ya udah, kalian masuk
sana! Terus cicipin makanan dan minuman yang ada di dalam.”
“Beres…..”
Setelah kehadiran beberapa temannya,
akhirnya giliran Kevin yang datang.
“Hallo Maura, happy birthday.”
“Thank you.’
“Nih aku kasih hadiah special buat
kamu.”
“Makasih, ya udah ayo masuk!”
Tepat pada pukul 8 malam, acara tiup
lilin dan potong kue segera dimulai. Semua undangan tampak berkumpul di ruang
tengah. Setelah menyanyikan lagu ulang tahun, Khanza lalu make a wish dan
meniup lilin. Dan dilanjutkan dengan potong kue. Kue pertama untuk mamanya, kue
kedua untuk papanya, dan kue yang ketiga ia persembahkan untuk sahabat
kecilnya, Kevin.
“Oke, dan untuk potongan kue yang
ketiga ini saya persembahkan untuk sahabat kecil saya, Kevin. Walaupun dia
sekarang tidak ada disini, tapi saya yakin dia saat ini juga diliputi
kebahagiaan. Dan saya juga berharap suatu saat nanti saya dapat bertemu dengan
dia lagi setelah 5 tahun saya tidak bertemu karena saya harus pindah ke
Amerika.”
Seketika Kevin kaget dan tidak
menyangka bahwa dugaannya selama ini benar, bahwa Maura yang selama ini ia
kenal adalah Khanza sahabat kecilnya. Ia lalu mendekati Khanza.
“Khanza, ini benar kamu?”
“Jadi, kamu Kevin. Kevin Reynaldi
Hutama?”
“Ya, aku Kevin Reynaldi Hutama
sahabat kecil kamu. Dan kamu adalah Maura Khanza Adrian, sahabat kecilku kan?”
“Iya, aku Khanza. Akhirnya kita bisa
bertemu lagi.”
Mereka lalu saling berpelukan untuk
saling melepas rindu. Teman - teman yang melihat mereka pun tampak ikut larut
dalam keharuan.
* * *
Keesokan harinya, suasana SMA Bhakti
Mulya tampak ramai. Udara terlihat cerah, dan sesekali terdengar kicau burung.
Sementara itu di pintu gerbang sekolah, tampak Kevin sedang menunggu seseorang.
Tak lama setelah ia menunggu, yang ditunggu pun datang.
“Pagi princess panda,” sapa Kevin.
“Pagi. Ihhhh……. kamu masih ingat
saja ya sama panggilan aku dulu.”
“Mana mungkin sih aku lupa sama
princess panda.”
“Oke deh prince imutku.”
“Ya udah, ke kelas yuk!’
“Ayukk….”
Selama perjalanan ke kelas mereka
tampak rukun dan saling bercanda satu sama lain. Seolah - olah mereka kembali
pada masa - masa SD dulu sewaktu masih tinggal di Bandung.
Pada saat jam istirahat Kevin
mengajak Khanza duduk di taman di bawah pohon rindang. Disana mereka saling
berikrar janji kesetiaan mereka sabagai sahabat.
“Khanza, aku pingin banget kamu
janji sama aku.”
“Janji apa Kev?”
“Janji untuk tidak meninggalkan aku
lagi.”
“Ya ampun Kev, jadi kamu masih takut
aku ninggalin kamu lagi?”
“Iya Za, aku takut kamu ninggalin
aku lagi.”
“Tenang saja Kev, aku nggak akan
kemana - mana kok. Dan aku janji tidak akan ninggalin kamu lagi.”
“Janji?”
“Janji deh.”
“Suer?”
“Suer.”
“Oke, aku pegang janji kamu.”
“Never mind.”
Kedua sahabat itu lalu saling
berpelukan, dan pohon rindang yang menaungi mereka menjadi saksi janji
persahabatan mereka.
~SELESAI~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar